Hasad, Penyakit Hati dalam Islam yang Lebih Berbahaya dari Corona

Para ulama sepakat menyebutkan bahwa penyakit yang menjangkiti manusia itu ada dua, yakni penyakit fisik dan penyakit hati. Penyakit hati dinilai lebih bahaya dari penyakit fisik, karena sifatnya yang tak kasat mata. Seseorang yang telah tertimpa penyakit hati sudah pasti akan mengalami kerugian di dunia maupun di akhirat.

Menurut hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim, hati (jantung) merupakan segumpal daging dalam tubuh manusia di mana jika segumpal daging tersebut baik, maka baik pula seluruh tubuh yang lain. Untuk itu para ulama juga mengatakan bahwa hati adalah rajanya anggota tubuh. Dengan kata lain apa yang terjadi pada fisik kita ini sumbernya berasal dari hati.

Hati adalah pororsnya kebahagiaan, jika sampai seseorang terkena penyakit hati tentu akan sangat berbahaya karena penyakit hati bisa menjauhkan seseorang dari Allah. Penderita penyakit ini tidak dapat menyadarinya. Kalau pun ia telah menyadarinya, akan sangat sulit untuk mengobatinnya, dibutuhkan kesabaran yang besar karena satu-satunya cara hanya dengan melawan hawa nafsunya.

Terdapat 3 jenis hati manusia yang dapat kita ketahui, yakni hati yang bersih, hati yang sakit dan hati yang mati.

  • Hati yang bersih, ialah hati yang selamat dari segala penyakit hati dan kerusakan. Gambaran hati yang bersih, hanyalah hati yang senantiasa mencintai dan takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Hatinya selalu diisi dengan dzikir dari mengingat Allah dan takut terhadap hal-hal yang menjauhkannya dari Allah. Hatinya terlampau khusyuk dan selalu sadar tujuan hidupnya di dunia.
  • Hati yang sakit, adalah hati yang masih memiliki semangat kehidupan, namun hatinya terdapat noda, sakit yang bersarang. Keadaan pemilik hati yang sakit tidak menentu, karena terkadang ia bisa sangat dekat dengan kebinasaan, bisa juga menjadi dekat dengan kebinasaan. Dibutuhkan pengorbanan besar untuk bisa sembuh dari hati yang sakit.
  • Hati yang mati, adalah gambaran hati yang tidak lagi memiliki kehidupan dan energi di dalamnya. Ia tak lagi mengenal Tuhan, tidak pula menyembah untuk beribadah kepada-Nya. Hidupnya diliputi hawa nafsu yang tidak bisa ia kendalikan. Hati yang mati menutup nasihat-nasihat yang diberikan dan lebih terbujuk oleh rayuan syetan.

Macam-Macam Penyakit Hati dalam Islam

 

Sakitnya hati bisa disebabkan oleh banyak hal sehingga menimbulkan bermacam-macam akibat, antara lain :

  • Kesyirikan, sebagaimana yang tertera dalam firman Allah di al-Qur’an surat Lukman ayat 13 yang berisi tentang larangan menyekutukan Allah, karena tindakan tersebut merupakan perbuatan dzalim dan tanda sakitnya hati.
  • Kemunafikan, adalah keadaan di mana ia tidak mampu jujur antara lisan dengan hatinya. Tanda-tanda orang yang terjangkit penyakit kemunafikan adalah malas-malasan beribadah, tidak amanah, tidak mampu menjalankan shalat Shubuh dan Isya dan lainnya.
  • Al-ghaflah (lalai), adalah keadaan hati yang enggan hadir dalam majelis ilmu untuk belajar agama, enggan untuk berdzikir kepada Allah, lalai dalam meniatkan segala sesuatunya hanya untuk Allah dan sebagainya.
  • Menuruti hawa nafsu, ialah kondisi di mana hati lebih mencintai dunia dan kerap disibukkan dengannya, kurangnya diri dari mengenal hak Allah dan akhirat, kurang melakukan amar ma’ruf nahi mungkar.
  • At-tarof (hidup untuk terus bersenang-senang), atau biasa disebut at-tana’um adalah kondisi seseorang yang melampaui batas dengan terus menerus mengingat dunia yang fana, seakan ia tidak pernah puas dan sibuk terhadap hal-hal sepele di dunia seperti berlebihan dalam menikmati hiburan di dunia, gawai, berhias maupun makan dan minum.

Mengenal Hasad Sebagai Penyakit Hati dalam Islam

Tidak dapat dipungkiri semua insan manusia pasti bisa terkena penyakit hati. Diantara banyaknya penyakit hati yang paling berbahaya bagi kehidupan dunia dan akhirat adalah, hasad atau iri atau dengki di mana seseorang yang terkena penyakit ini menginginkan kebahagiaan dan kenikmatan yang dimiliki orang lain musnah.

Hasad sendiri terbagi menjadi dua macam, yakni hasad tercela, yaitu seseorang yang kesal ketika seseorang mendapatkan nikmat dan ingin kenikmatan yang dinikmati orang lain tersebut hilang. Sementara yang kedua adalah ghibthoh, keadaan di mana seseorang ingin mendapatkan kenikmatan semisal orang lain tetapi tidak ingin nikmat pada orang lain tersebut hilang.

Pepatah Islam Arab mengatakan setiap jasad manusia tidak bisa lepas dari penyakit hasad (iri dengki). Namun orang yang berpenyakit akan menunjukkannya, sementara orang yang mulia akan menyembunyikannya. Hasan Al Bashri berpendapat selama hasad tidak ditampakkan maka oleh lisan dan tangan manusia, maka hal tersebut tidak akan mencelakakanmu.

Lalu bagaimana cara mengobatinya? Hanya ada dua caranya, yaitu dengan takwa, sabar dan membuat diri membenci sifat hasad yang bersemayam di tubuhnya. Sabar akan membuat seseorang menahan diri dari keluh kesah, tidak semena-mena terhadap lisan dan tangannya. Sementara takwa akan menuntun manusia terhadap pemahaman takdir dan ketetapan Allah.

Ketika hati seorang manusia terkena penyakit hati berupa hasad yang tercela, maka ia bisa membuka celah penyakit hati lainnya seperti kesyirikan, kemunafikan, al-ghaflah, at-tarof dan terus menerus menuruti hawa nafsunya. Sehingga tidak mengherankan jika penyakit hati yang terus menggerogoti dapat mematikan hati dan memadamkan jiwa pada jasad yang sehat sekalipun.